Tuesday, 18 March 2014

Lacak Jejak Penerbangan Pesawat yang Hilang

Waypoint pesawat Malaysia Airlines MH370. (http://airinfodotorg.files.wordpress.com/)
Lacak Jejak Penerbangan Pesawat yang Hilang

Sejak awal, para ahli penerbangan bingung dengan putusnya kontak pesawat yang dilengkapi peralatan canggih itu tanpa ada peringatan darurat sebelumnya.

Hingga Minggu (16/3), terhitung sembilan hari pesawat Boeing 777-200ER milik Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 menghilang. Setelah pencarian di Laut Cina Selatan tidak membuahkan hasil, Sabtu (15/3), muncul informasi baru yang mengarah pada pembajakan pesawat itu.

Sejak awal, para ahli penerbangan bingung dengan putusnya kontak pesawat yang dilengkapi peralatan canggih itu tanpa ada peringatan darurat sebelumnya. Ketidakpastian kian bertambah setelah seminggu pencarian di Laut Cina Selatan tidak menunjukkan tanda-tanda ada pesawat jatuh. Padahal, kawasan itu tergolong ramai dan dipantau banyak satelit.

Saat sebuah pesawat hilang kontak, asumsi pertama yang muncul biasanya adalah pesawat jatuh. Dari kontak terakhir, posisi hilangnya pesawat dapat dilacak. Adapun posisi pasti jatuhnya pesawat dapat dilihat dari pecahan badan pesawat yang terlihat ataupun pancaran sinyal emergency locator transmitter (ELT).

Pesawat MH370 hilang kontak dengan petugas pengendali lalu lintas penerbangan setelah 50 menit lepas landas dari Kuala Lumpur. Ketika itu, posisi pesawat berada pada jarak sekitar 220 kilometer dari Kota Bharu, di timur laut Semenanjung Malaya, dalam perjalanan menuju Beijing, China.

Pengamat penerbangan dari majalah Angkasa, Dudi Sudibyo, mengatakan, pesawat terbang modern dilengkapi dengan Aircraft Communications Addressing and Reporting System (ACARS). Alat ini mengirimkan data penerbangan ke petugas maskapai dan data mesin ke pabriknya secara real time. "Alat ini memandu dan memantau pesawat sejak lepas landas, menjelajahi ketinggian, hingga mendarat di tujuan," kata Dudi.

Sebaliknya, petugas di darat akan mengirimkan data pendukung penerbangan, seperti prakiraan cuaca di depan perjalanan. Jika pesawat akan menyeberangi lautan luas, navigasi pesawat akan dibantu satelit agar posisi pesawat tetap di jalurnya.

Mantan Presiden Asosiasi Pilot Garuda, yang juga pilot Airbus A330, Stephanus G Setitit, menambahkan, selain ACARS, pesawat memiliki transponder (radar sekunder) yang memancarkan sinyal dari pesawat ke radar primer yang ada di pengendali lalu lintas penerbangan (ATC) di bandar udara. Sinyal ini memberitahukan posisi pasti pesawat. "Radar sekunder digunakan untuk mendeteksi awan di depan pesawat," ujarnya.

Sinyal transponder bisa ditangkap radar militer untuk kepentingan pertahanan negara. Syaratnya, pesawat masih berada pada jangkauan radar itu.

Baik ACARS maupun transponder terletak di kokpit pesawat dan bisa dimatikan. Dalam kasus pesawat MH370, ACARS mati sebelum pesawat mencapai pantai timur Semenanjung Malaya dan transponder mati saat pesawat berada di perbatasan wilayah udara Malaysia dan Vietnam.

"Walau kedua alat itu mati, pesawat tetap bisa terbang normal. Hanya, pergerakannya tidak bisa dipantau petugas di darat," kata Stephanus.

ACARS dan transponder tidak menunjukkan posisi jatuhnya pesawat. Posisi jatuhnya pesawat biasanya dideteksi dari sinyal yang dipancarkan ELT. ELT disimpan di ekor pesawat dan akan aktif jika pesawat mengalami benturan keras. Durasi sinyal yang dipancarkan ELT hanya 24 jam.

Sinyal ini akan ditangkap satelit dan disampaikan ke tim SAR terdekat untuk meminta bantuan penyelamatan. Sinyal ELT dipastikan akan terdeteksi di mana pun pesawat itu jatuh.

Sejenis dengan ELT, ada Underwater Locator Beacon (ULB) yang disimpan di dekat kotak hitam di ekor pesawat. Sinyal ULB aktif hingga 30 hari sejak tumbukan dan dapat ditangkap satelit meski pesawat tenggelam di dasar laut.

Ahli desain operasi perawatan pesawat terbang Program Studi Aeronautika dan Astronautika Institut Teknologi Bandung, Hisar Manongam Pasaribu, mengatakan, kedua penunjuk lokasi jatuhnya pesawat bisa saja tidak aktif saat pesawat jatuh dan mengalami tumbukan. Berdasarkan data statistik, 81-83 persen ELT hidup saat terjadi tumbukan. Artinya, ada potensi 17-19 persen ELT tidak aktif walau pesawat jatuh.

"Banyak hal bisa memicu tak aktifnya ELT, bisa jadi karena sengaja dirancang aktif pada benturan sangat tinggi, dayanya habis atau kemungkinan lain yang belum diketahui," katanya. Berbeda dengan ACARS dan transponder, ELT tidak bisa dimatikan.

Jika tidak ada sinyal ELT dan tidak ditemukan serpihan pesawat di sekitar titik kontak terakhir pesawat, kemungkinan besar pesawat memang tidak jatuh di sekitar Laut Cina Selatan.

Kondisi itu diperkuat dengan keterangan Pemerintah Malaysia, Sabtu (15/3), bahwa setelah mendekati perbatasan wilayah udara Malaysia-Vietnam, pesawat berbalik arah menuju barat, menyeberangi Semenanjung Malaya. Kontak pesawat dengan satelit terakhir terdeteksi pada 8 Maret pukul 08.11, sekitar 7 jam setelah pesawat hilang dari pengawasan ATC.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/03/lacak-jejak-penerbangan-pesawat-yang-hilang

0 komentar:

Post a Comment