Thursday, 31 January 2013

Mengurangi keluhan, ganggguan dan resiko kesehatan pada Ibu Hamil

Setiap pasangan suami istri tentu mengharapkan keturunan yang sehat dan normal. Kehamilan bagi sebagian pasangan yang sudah menikah adalah hal yang ditunggu-tunggu, kecuali bagi mereka yang barangkali ingin menunda untuk punya anak. Agar kehamilan berlangsung normal dan sehat, ibu yang sedang hamil perlu perhatian khusus dan perlu lebih berhati-hati. Alangkah lebih baik jika sebaiknya ibu hamil tidak menyepelekan gangguan-gangguan atau keluhan yang terjadi selama kehamilan, baik fisik maupun kejiwaan. Secepat mungkin mengatasi sebelum terjadi hal-hal yang dapat membahayakan jabang bayi termasuk ibu hamil itu sendiri.


Berikut beberapa resiko yang bisa terjadi pada seorang yang sedang hamil.

1. Perdarahan pada Ibu Hamil


Perdarahan pada saat hamil tidak seharusnya terjadi. Karena berisiko kematian pada janin dalam kandungan. Perdarahan pada masa di bawah 5 bulan disebut abortus. sedangkan jika terjadi pada masa 7-8 bulan kehamilan disebut hemoerjik antopartum. 

Salah satu penyebab perdarahan pada ibu hamil adalah letak plasenta yang tidak normal, berada di bawah kepala bayi. Pada saat pergerakan bayi, terjadi gesekan yang rentan menimbulkan perdarahan. Pada kondisi normal, seharusnya plasenta bayi berada disamping kepala bayi. Perdarahan yang disebabkan letak plasenta yang tidak semestinya, biasanya terjadi pada ibu yang sering hamil.

Sekedar diketahui, perdarahan menyebabkan mukosa-mukosa tempat menempelnya plasenta didalam rahim menjadi rusak. Padahal plasenta berfungsi untuk memncari dan memberi makanan untuk bayi. Pembuluh darah plasenta akan melebar karena posisi menempelnya sudah tidak sesuai, inilah yang menyebabkan perdarahan. 

Selain posisi plasenta yang tidak pas tadi, aktivitas hubungan badanpun dapat menyebabkan perdarahan. Perlu diperhatikan frekuensi dan posisi yang aman saat berhubungan. Apalagi jika sudah terdeteksi letak plasenta berada di bawah kepala. Untuk mencegah terjadinya perdarahan, aktivitas sebaiknya dikurangi atau dihentikan pada bulan ke 7 dan delapan.

2. Bengkak kaki

Mengurangi keluhan, ganggguan dan resiko kesehatan pada Ibu Hamil Berikut beberapa resiko yang bisa terjadi pada seorang yang sedang hamil.
Pembengkakan kaki pada ibu hamil, pada umumnya disebabkan oleh hipertensi sehingga berbeda jika bengkak kaki karena aspek fisiologis yang memang umum terjadi pada kebanyakan ibu hamil. Kaki bengkak karena tekanan darah tinggi, biasanya tak bisa kempis, kendati Ibu hamil sudah istirahat. Tekanan darah yang normal pada Ibu hamil berkisar 90-140, jika melebihi angka 140 maka dapat mengakibatkan gangguan ginjal.



3. Sakit Kepala


Hal yang satu ini perlu diwaspadai. Jika ibu hamil sering sakit kepala, bisa jadi ini indikasi kehamilan yang berbahaya. Sering terjadi karena anemia (kurang darah) ataupun tekanan darah tinggi. Gejala sakit kepala ini pada umumnya terjadi pada ibu yang pertama kali hamil dan ibu yang kehamilannya cukup dekat. Kepala terasa berdenyut pada akhirnya bisa menyebabkan kejang-kejang yang berujung pada keracunan kehamilan. Jika terjadi disaat genting (usia kehamilan yang tua). Padahal penanganan persalinan yang normal maupun bedah Cesar sangatlah sulit. 

Oleh karena itu sebelum masuk persalinan, kondisi ibu harus benar-benar sehat, dalam artian tidak menderita anemia maupun hipertensi tadi. Ibu hamil sangat dianjurkan memeriksakan diri dan kandungan secara teratur jika memiliki riwayat keluhan sakit kepala karena anemia dan hipertensi.

Kontrol kandungan/kehamilan mesti dilakukan setiap bulan dari bulan pertama hingga bulan ke 7. Sedangkan pada bulan ke delapan Ibu hamil mesti memeriksakan kandungan nya sebulan 2 kali. Kemudian seminggu sekali pada usia kehamilan sudha memasuki bulan ke 9.

4. Resiko dari segi usia Ibu Hamil dan jarak kehamilan.


Apakah yang dimaksud serba terlalu di sini? Ibu hamil yang usianya terlalu muda, terlalu tua memiliki risiko tinggi saat melahirkan. Ibu hamil yang berusia muda akan mengalami masalah psikologis. Mereka biasanya kaget dan merasa belum siap menghadapi perubahan yang ada pada dirinya.  Ketidaksiapan mental ini, tentu saja turut berpengaruh terhadap kesehatan diri dan janin yang dikandungnya. Usia yang terlalu muda saat hamil, rahimnya belum matang untuk dapat menerima kehamilan. Sehingga resiko yang paling tinggi biasanya perdarahan, terjadi pada ibu muda. 

Idealnya wanita yang siap hamil berkisar di usia 22-35 tahun, lebih dari itupun risiko kehamilannya juga semakin tinggi. Demikian pula pada wanita yang kehamilannya terlalu rapat. Selain mukosa dalam rahim yang kurang sehat, dan sempurna untuk kehamilan berikutnya. Idealnya jarak antara kehamilan satu dengan kehamilan selanjutnya adalah minimal 3 tahun. Dalam jangka waktu ini, rahim akan kuat dan siap untuk menerima kehamilan. 

Demikian beberapa tips mengatasi resiko-resiko yang kerap terjadi pada ibu hamil. Hal yang sangat dibutuhkan ibu hamil adalah kasih sayang dan perhatian serta dukungan dari suami. Menjaga menu makanan yang bergizi untuk ibu hamil. Hindari perasaan was-was dan stress maupun mitos-mitos yang tidak masuk akal. Yang tidak kalah pentingnya tentu saja selau rajin beribadah dan berdo'a agar dikarunia anak yang sehat dan proses kelahiran dapat berjalan lancar.

Wednesday, 2 January 2013

Dampak Stress terhadap Kesehatan

Ilmu kedokteran menemukan bahwa bilamana seseorang merasa stres menghadapi masalah kehidupan, akibat emosi yang negatif akan merangsang keluarnya hormon-hormon tertentu, yang menstimulasi susunan saraf sedemikian rupa, sehingga berbagai organ-organ dalam tubuh mendapat tekanan berat.  Bilamana organ-organ dalam tubuh tertekan dalam waktu yang lama, maka lambat laun organ ini akan menjadi lemah dan lebih cenderung untuk menderita penyakit, apakah karena serangan  yang datang dari luar maupun dari dalam tubuh.  Yang menentukan organ-organ mana yang akan dipengaruhi tekanan ini adalah faktor keturunannya seseorang, konstitusinya, lingkungannya, dan gaya hidupnya.
penyebab stress, sumber stress, stres karena pekerjaan, sekolah dan urusan keluarga

Akibat negatif stress untuk kesehatan antara lain:

  1. Stres atau ketegangan dapat mengeluarkan adrenalin, sehingga jantung berdenyut dengan lebih kuat dan cepat.  Akibatnya stres ini dapat menyebabkan seseorang untuk menderita jantung yang berdebar-debar.

  2. Bilamana hormon stres yang menyebabkan pembuluh darah untuk menciut, maka kemungkinan untuk mendapat tekanan darah tinggi itu besar diikuti dengan penyakit-penyakit cardiovascular dan cerebrovascular.  Akibat penciutan pembuluh darah ini, peredaraan darah di perifer tubuh akan berkurang dan penderita mengeluh tangan dan kakinya selalu dingin.

  3. Stres dapat menyebabkan seseorang untuk bernafas secara dangkal dan cepat dengan dibatasi saluran pernafasannya yang menimbulkan hyperventilation.

  4. Stres dapat menyebabkan menurunnya suplai darah ke saluran pencernaan,  sehingga proses pencernaan akan terganggu.

  5. Stres dapat  darah menggumpal dengan lebih cepat yang umumnya bersifat melindungi tubuh kita bilamana misalnya terjadi pendarahan karena sesuatu cedera, tetapi bilamana keadaan ini terjadi berlarut-larut, maka akan menimbulkan dampak yang negatif.

  6. Stres berakibat pengeluaran keringat yang berlebihan, sehingga tubuh menjadi lembab, suatu suasana yang tidak menyenangkan.

  7. Stres mengakibatkan kadar gula darah meninggi, suatu sumber energi di mana tenaga dapat diperoleh dengan cepat, namun pada individu yang sudah ada predisposisi untuk penyakit kencing manis, justru keadaan stres yang berlarut ini akan mempercepat timbulnya atau kambuhnya penyakit kencing manis tersebut.

  8. Stres dapat mengubah fungsi saluran pencernaan makanan dan air seni, sehingga timbul keinginan untuk senantiasa buang air kecil maupun buang air besar yang dikenal dengan irritable bowel syndrome.

  9. Seorang penderita stres dapat mengunjungi dokter dengan berbagai ragam keluhan seperti kecemasan, depresi, perasaan takut yang berlebihan, dan gangguan pikiran termasuk gangguan ingatan dan gangguan tidur.

John Marks dalam artikelnya “Time Out” di U.S. News & World Report mengatakan “Somewhere between 75-90% of all doctor visits stem from stress.”  Sungguh telah dikukuhkan tulisan Ny. White dalam Testimonies, Jilid V hal. 444 demikian, “Penyakit pikiran terdapat di mana-mana.  Sembilan per sepuluh dari penyakit-penyakit yang diderita manusia berasal dari pikiran.”

Para ahli riset Inggris dalam studi mereka terhadap hormon-hormon stres baik sebelum dan sesudah dua hari menjalani prosedur pembedahan, mendapatkan, bahwa bilamana pasien mengikuti latihan relaksasi secara formal justru hormon stresnya  meninggi.  Ini melemahkan daya tahan tubuh mereka, sedangkan, bagi mereka yang berdoa, tidak didapatkan peninggian hormon stres, sehingga daya tahan tubuh mereka tidak memburuk. 

Percayalah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita telah diatur Tuhan demi kebaikan kita, sehingga kita tidak perlu stres dalam menghadapi tantangan hidup.